Monday, 28 June 2010

Musim khitan di masa liburan

Liburan telah tiba, anak-anak bergembira karena membayangkan pergi liburan ke tempat wisata. Tapi tidak dengan sebagian orangtua, liburan datang artinya waktunya untuk mengkhitankan anak. Saya pun begitu, dua orang anak laki-laki saya sudah waktunya untuk dikhitan. Sejak awal tahun 2010 saya sudah mengkondisikan mereka bahwa liburan panjang pertengahan tahun nanti mereka akan disunat, agar mereka sudah siap. Teman-teman sekelas mereka sudah banyak dikhitan, jadi anak saya malu juga kalau dirinya yang sudah besar belum disunat.

Di dalam Islam berkhitan adalah sunnah Rasul bagi anak laki-laki sebelum akil baliq (masa menginjak dewasa). Tanda seorang menjadi muslim adalah dia dikhitan. Ajaran khitan ternyata tidak hanya dalam agama Islam saja, penganut Yahudi juga melaksanakan khitan. Dalam sejarahnya Nabi Isa (Yesus) juga dikhitan karena dia terlahir dari seorang Yahudi, namun pengikut agama Nasrani saat ini tidak melaksanakan khitan sebagaimana Nabi Isa. Saya tidak tahu alasannya, mungkin pembaca yang beragama Kristen bisa menjelaskannya.

Khitan artinya membuang kulit kulup penutup (maaf) alat kelamin laki-laki. Ilmu kedokteran sudah mengakui kalau khitan ternyata mempunyai manfaat ditinjau dari sudut medis, yaitu untuk menghindari penularan penyakit kelamin, HIV, dan sebagainya. Kulit penutup alat kelamin laki-laki tadi adalah sarangnya kotoran yang sulit dibersihkan dan tempat subur kuman penyakit. Dengan membuang kulup tadi maka seorang laki-laki terhindar dari penyakit melalui alat kelaminnya. Karena alasan medis tadi, banyak orang yang bukan muslim sekalipun melaksanakan khitan, termasuk di klink khitan yang akan saya ceritakan nanti.

Tiap suku bangsa di Indonesia mempunyai tradisi khitan masing-masing. Orang Sunda mengkhitankan anaknya ketika masih balita, yaitu umur 3 hingga 5 tahun. Sebaliknya orang Jawa mengkhitankan anak ketika mendekati akil baliq, yaitu kira-kira masih kelas 6 SD atau umur 12 tahun. Sedangkan orang Minang seperti saya tengah-tengahnya, yaitu ketika anak berumur 9 atau 10 tahun (kelas 4 atau 5 SD). Di tanah Sunda prosesi khitan diakhiri dengan pesta syukuran dengan menghadirkan kesenian sisingaan. Anak laki-laki yang telah dikhitan dinaikkan ke atas sisingaan sebagai pengantin sunat, lalu ditandu oleh orang dewasa yang membawa sisingaan itu. Tujuannya adalah untuk memberi hiburan bagi anak dan melupakan rasa sakit akibat disunat. Saat ini kesenian sisingaan sudah banyak digantikan dengan orgen tunggal.

Sejak awal tahun 2010 saya sudah survei tempat-tempat khitan dan bertanya kepada teman-teman serta tetangga. Saya juga membaca tentang teknik khitan yang beraneka ragam, ada yang cara biasa, ada pula dengan teknik laser (yang sebenarnya adalah pisau elektrik atau cauter). Pokoknya cari tempat khitan yang tidak menimbulkan terlalu sakit bagi anak. Pilihan saya jatuh pada Klinik Khitan Dokter Seno (Seno Medika) di Jalan Ahmad Yani, Cicadas Bandung. Klinik ini memang sudah terkenal sejak tahun 1973 sebagai tempat khitan. Alasan memilih tempat ini berdasarkan pengalaman orang yang anaknya dikhitan. Katanya khitan oleh Dokter Seno tidak terasa sakit dan cepat sembuh (tiga hari sudah sembuh). Selain itu luka khitan tidak diperban. Oh ya, Dokter Seno juga sudah pengalaman mengkhitan anak-anak berkebutuhan khusus seperti autis, hiperaktif, down syndrome, dan sebagainya

Yang disunat adalah anak, tetapi yang stres adalah orangtuanya. Orangtua stres kalau nanti anaknya meronta, ketakutan, takut banyak pendarahan, dan pelbagai pikiran buruk lainnya menghantui. Sayapun begitu, malam sebelum dikhitan saya tidak bisa tidur membayangkan apa yang terjadi esok hari. Waktu khitan yang saya pilih adalah subuh. Waktu terbaik untuk khitan adalah dinihari hingga pagi hari sebab waktu itu aktivitas anak belum banyak bergerak sehingga peredaran darahnya belum terlalu lancar (tidak banyak pendarahan kalau dikhitan).

Setelah shalat Subuh kami membawa anak ke klinik dokter Seno. Oalah, ternyata musim liburan ini banyak sekali anak yang mau disunat. Yang disunat hanya seorang, tetapi pengantarnya banyak sekali, seperti mengantar jamaah haji saja. Mulai orangtua, kakek nenek, paman, dan sudara mengantar si anak ke dokter Seno. Ruang tunggu penuh dengan pengantar.


Satu per satu anak-anak dipanggil masuk ke ruang operasi. “Sini ya, difoto dulu”, kata petugas. Ternyata ucapan mau difoto itu hanya taktik agar si anak tidak takut. Ajaib, si anak menurut saja seolah-olah terhipnotis tanpa merasa takut sama sekali. Ih, seperti mau masuk bioskop saja. Pengantar hanya boleh sampai di depan pintu saja, setelah itu urusan petugas medis dan dokter. Saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Eh, lima belas menit kemudian si anak sudah keluar sambil senyum-senyum. Di kepalanya ada topi hadiah dari dokter, lalu tangannya memegang sebungkus besar makanan ringan kesukaan anak-anak. Anak-anak keluar dengan memakai celana seperti dia masuk. Habis disunat sudah bisa pakai celana dan sama sekali tidak ada pendarahan. Saya tanya anak saya apa yang terjadi di dalam. Katanya dokter mengajaknya ngobrol-ngobrol, lalu disuruh melihat TV di depan. Tahu-tahu sudah selesai. Sakitnya hanya waktu disuntik kebal, seperti digigit semut. Saya dengar anak-anak yang disunat dokter Seno seolah-olah seperti terhipnotis saja, meskipun saya kira itu bukan hipnotis, mungkin semacam sugesti saja.

Banyak sekali anak-anak yang dikhitan hari itu, tidak henti-hentinya anak-anak mengalir datang dan pergi. Saya juga melihat dua orang anak dari etnis Tionghoa menunggu giliran untuk dikhitan. Saya juga mendengar nama anak yang berbau nama baptis (Laurensius) dipanggil masuk ke ruang operasi. Rupanya para orangua yang non muslim sudah banyak yang menyadarai manfaat khitan ini sehingga merekapun membawa anak-anaknya khitan di klinik dokter Seno.

Alhamdulillah, masa sulit itu akhirnya berakhir. Hari ini tadi pagi sungguh terasa berat, tetapi sekarang sudah lega rasanya. Salah satu fase dalam kehidupan anak lelaki muslim akhirnya sudah berhasil dilewati. Tinggal menunggu penyembuhan selama tiga hari, dan selama tiga hari itu saya tidak ke kantor untuk merawat luka khitan di rumah. Di rumah luka jahitan setelah dikhitan harus rajin ditetes obat supaya cepat kering dan lekas sembuh. Mudah-mudahan setelah dikhitan anak-anak itu menjadi anak yang shaleh. Mereka sudah melaksanakan salah satu sunnah Rasul.

Sumber: rinaldimunir

No comments:

Post a Comment

Blog Ping